MEMBANGUN PILAR PERDAGANGAN ISLAMI MELALUI PASAR MODERN (MART ) .. Bag-III

B. Menebar  Modal, Meraup Untung, Menuai Pahala  Gempa.

Menanggapi beberapa komentar dari sahabat-sahabat tercinta, hal ini menjadi  motivasi bagi Penulis,  untuk melanjutkan  tulisan yang sederhana ini, Insya Allah dengan berlandaskan niat   Lillahi ta’ala, semua komentar yang telah mendorong untuk kebaikan, akan menjadi  catatan yang baik di  Hadlirat Illahi robbi, amiin.

Judul tulisan kali ini adalah ; Menebar Modal, Meraup Untung, Menuai Pahala  Gempa, hal ini berkaitan erat dengan kondisi  kita saat ini, dimana mentawai dan merapi, dua kawasan yang sedang dirundung duka, karena musibah yang telah menimpa.  Insya Allah, semua upaya dari para sahabat tercinta, terutama yang telah meringankan beban mereka yang terkena musibah, pada akhirnya  Allah SWT  akan meringankan urusan mereka juga,  pada waktunya nanti , amiin.

Bencana Alam berupa gempa bumi, memang  sudah terjadi  sejak ber abad-abad lalu.  Salah satu peristiwa bencana gempa yang dahsyat, yang meluluh lantakkan semua isi penduduknya, kecuali orang-orang yang shalih,  adalah terjadi pada kaum Midian ( Madyan ), di zaman Nabi Syuaib.

Peristiwa  Ini terlukiskan  dalam kitab suci Al-Qur’an Surat Hud dari mulai ayat 84 sampai dengan 95.

Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).” (Q.S. Hud 84 )
Dan Syu’aib berkata: “Hai kaumku,
cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. (Q.s. Hud 85 )

Dua ayat diatas menerangkan, bahwa telah terjadi perilaku bisnis yang  sudah menjadi tradisi dalam kehidupan sehari-hari, di lingkungan kaum Madyan.  Prinsip bisnis yang ternyata di benci oleh Yang Maha Pencipta, adalah  perilaku bisnis yang mengurangi takaran dan timbangan.  Makna yang tersirat dari perilaku mengurangi  takaran dan timbangan adalah,  memperkecil biaya atau modal dengan cara mencurangi takaran yang digunakan sebagai alat jual beli.

Untuk memudahkan memahaminya, maka akan dicoba mengambil suatu  contoh dari seorang Pedagang Kurma.  Pedagang korma tersebut menawarkan harga korma perkilonya Rp. 25.000,- dan dia sendiri membeli dari Petani korma dengan harga sebesar  Rp. 20.000,- maka dia akan meraup keuntungan Rp. 5000,- perkilogramnya

Dengan menggunakan prinsip perdagangan “mengurangi takaran”, dimana prinsip tersebut telah mengurat akar , sebagai prinsip perdagangan yang berlaku saat itu,  di lingkungan kaum Madyan, maka  si Pedagang  korma  akan mengurangi takaran kormanya. Sehingga takaran  korma yang dijual tersebut, seharusnya 1 kilogram  menjadi 8 ons (sebagai contoh).   Maka biaya yang dia keluarkan untuk membeli korma dari Petani, menjadi sebesar   Rp16.000,-  ( 0,8 X Rp. 20.000,- ).   Ini mengandung arti bahwa dengan menekan  biaya, maka  Si Pedagang akan meraup keuntungan yang lebih besar,  yaitu menjadi Rp 9000,- per kilogram nya.

Bagaimana dengan keadaan sekarang???.

Sahabat Penulis, seorang Pendidik menuturkan bahwa salah seorang Mahasiswanya yang telah lulus Sarjana, mencoba menekuni bisnis sebagai Petani Tomat.  Lahan yang digunakan seluas 2 hektar, adalah milik kedua orang tuanya , dan sebagai modal diberikan pula Rp. 9.000.000,-

Mulailah Sang Sarjana mengelola kebun tomatnya, dan Alhamdulillah semua berjalan lancer dengan hasil yang memuaskan, tomat berbuah dengan besar-besar,  karena pupuk dan pengelolaannya dilakukan secara baik dan benar.

Tibalah waktu Panen tomat, dan telah  diperhitungkan sebelumnya oleh Sang Sarjana tadi, bahwa kebutuhan masyarakat pada  tomat akan meningkat , karena waktu panennya bertepatan dengan menjelang  hari raya Idhul Fitri .  Tetapi apa yang terjadi, harga tomat di tawar oleh para agen yang bisa memborong tomat, hanyalah sebesar Rp. 120,- perkilogramnya,  dimana harga tersebut sangat  jauh dari harga break event point, yang menurut perhitungannya sebesar Rp. 400,- per kilogramnya.

Harga tomat  di tingkat konsumen hampir tidak berubah, waktu itu harga tomat di tingkat konsumen sebesar Rp. 2000,- per kilogramnya. Mengapa ini bisa terjadi???.

Inilah potret masa kini, Seorang sarjana,  yang baru melangkahkan kakinya di dunia wiraswasta,  dengan terlebih dahulu memperhitungkan segala aspek bisnisnya, melakukan segala upaya bisnis, untuk menjadi wiraswastawan muda di bidang abgrobisnis.  Dengan dibekali ilmu pertanian,  yang telah dia diterapkan dengan baik dan benar, dan didukung hasil tanaman yang sangat memuaskan, tetapi ketika terjadi transaksi dia menangisi… ( hasil penjualan yang diperoleh sebesar Rp. 350.000,- padahal modal dan investasi yang dia keluarkan jauh sangat besar…)

Para Agen pembeli tomat, adalah “pe Bisnis tulen”, yang bersandarkan kepada  prinsip ekonomi yang sedang berlaku saat ini, yaitu : “ Dengan menekan  biaya sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya”???.

Prinsip  bisnis kaum Madyan, sudah  berlaku pula pada hari ini.

Perilaku bisnis Kaum Madyan ini, telah ditentang oleh Nabi Syuaib, tetapi mereka tidak mematuhinya, seperti  tertera dalam ayat dibawah ini ;

Dan (dia berkata): “Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya akupun menunggu bersama kamu.” Q.S. Hud 94

Keputusan Allah SWT  Yang Maha Adil dan Bijaksana terhadap kaum yang membangkang dalam perekonomian ini, seperti terlukiskan dalam Al Quran Surat Hud dan Al-Ankabuut dibawah ini ; 

Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya Q.S. Hud 94

Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Mad-yan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa ( Q.S. Hud 95.

Maka mereka mendustakan Syu’aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka.( Q.S. AL-An-kabuut 37 )

Saudara-saudaraku yang terbaik,  ternyata para ahli bisnis pada zaman Kaum Madyan, adalah  mereka yang telah  menebar modal, meraup untung dan  menuai pahala gempa. Audzubillahi min dzalik.

Peristiwa gempa yang dahsyat, yang meluluh lantakkan bumi yang kita pijak ini, menurut Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Hud diatas,  dikenakan sebagai  hukuman/ azab  bagi orang-orang yang durhaka, tetapi  sebagai musibah bagi  orang-orang yang shalih dan beriman, dan Allah akan menyelamatkannya, Insya ALLAH.

Sahabat-sahabatku, marilah kita renungkan sejenak….

Apakah kita akan tetap terpaku sebagai pemerhati  perilaku ekonomi dewasa ini..

Ataukah kita akan berupaya sebagai pelaku, dengan niat Lillahi Ta’ala, untuk mengikuti tuntunan  Nabi syuaib…. dalam memberdayakan ekonomi ummat,  khususnya dalam bidang  perdagangan yang baik dan yang benar, serta Insya Allah,  di ridlai oleh Allah SWT. Amiin.

Kalau bukan kita, siapa lagi ….

Kalau bukan sekarang, kapan lagi ……

Selanjutnya  Prinsip Perdagangan Yang   Insya ALLAH,   dI Ridlai oleh  Allah SWT…….

To Be Continued……

Penulis : Gunawan Achmad

Pos ini dipublikasikan di Forum Islam. Tandai permalink.

Satu Balasan ke MEMBANGUN PILAR PERDAGANGAN ISLAMI MELALUI PASAR MODERN (MART ) .. Bag-III

  1. Desman berkata:

    Semoga para Pemimpin kita mengawal sistim perdagangan kita seuai dengan kaidah islam , apa mereka mengerti ini ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s