Manusia ….. Manusia

Tafsir Maudhu’i.

Catatan : Tulisan ini dikumpulkan oleh Wage Ratman ketika mengikuti pengajian ustad DR. H. Deden A.R, M.Ag pengasuh pesantren Adz-Dzikro, 2008

Pernahkah kita renungkan jasmani yang kita perjuangkan setiap saat agar tetap berdiri tegak?  Pernahkan kita mengenal diri yang terus digerogoti mahluk Allah lainnya yakni waktu? Untuk tujuan apa kita hadir dimuka bumi ini?. Syahdan pertanyaan ini sudah berabad-abad lamanya, sehingga mungkin bagi sebagian orang menganggapnya sudah kadaluarsa atau usang. Jawaban paling mudah yang sering terlontar tentu saja alasan yang berkisar antara kesibukan cari nafkah dan sebab kodrat alam. Namun tentu bukan jawaban yang pas, tiba-tiba saja ada yang menya-darkan kita tentang diri kita sendiri,

“Tentang diri kamu,. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

(Adz-Dzaariyat,51,21).

Para sufi mengatakan

Man ‘arofa nafsahu, faqod ‘arofa robbahu”

(Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka sungguh ia telah mengenal                    Tuhannya).

Adalah Kitab Al Qur’an yang banyak mengungkap sikap, tingkah laku, peradaban, adat kebiasaan, makna, arti, peranan dan tanggung jawab manusia. Al-Qur’an telah menerangkan secara komprehensip dan sempurna tentang manusia. Dan dipastikan bagaimana pentingnya al-Qur’an sebagai tuntunan, maka seyogya-nya manusia memahami al Qur’an, agar memperoleh tujuan hidup yang menye-luruh dan penuh kepastian.

Manusia dianugerahkan Allah berbagai keistimewaan diantaranya berilmu, berakal, pandai bicara, mampu berpikir, bisa memilih yang baik dan buruk. Dengan kemampuan ini manusia diharapkan bisa memikul taklif (tugas keagamaan). Manusia juga mampu mengatasi kesesatan dengan upaya kekuatannya. Manusia dapat pula mengendalikan nafsu yang bisa menutup kesadaran nuraninya. Godaan terhadap nurani manusia ini akibat gangguan dari berbagai makro organisme maupun mahluk yang mempunyai kedudukan dan derajat lebih tinggi.

Dalam diri manusia mengandung pertentangan antara akal dengan kelemah-an nafsunya. Yang bisa menggelincirkan manusia pada lembah kehinaan atau malah memasukkan  manusia pada katagori mahluk terpuji. Bentuk kelemahan alamiah manusia dianalogikan dengan kisah Adam dan  Hawa yang terjebak nafsu bawah sadarnya yang kemudian terusir dari taman surga. Analogi peristiwa ini sering di-temukan dalam alam kehidupan modern sekarang. Proses perubahan skala massif pada segala bidang menimbulkan social lingkungan pada posisi titik nadir. Sehingga manusia terjebak dan menimbulkan konflik akut dalam kehidupan manusia itu sendiri.

Didalam Al-Qur’an, pengertian manusia dalam 3 (tiga) sebutan, yaitu

1.     Manusia dengan sebutan “Basyar”.

  1. Manusia dengan  sebutan “Bani Adam”
  2. Kata manusia berasal dari  3 (tiga) huruf , yaitu Alif, Nun, dan Sin.

Sebutan “Basyar”.

Basyar berkaitan dengan unsur material fisik manusia. “Basyar” berarti nampak dengan baik dan indah. Maka lahir kata  “Basyarotun” yang berarti “kulit”, yang diartikan bahwa kulit manusia nampak jelas terlihat dan nyata. Menurut Bint al-Syathi dalam al Qur’an wa Qadhaya al-insan yang dikutip Quraish Syihab, kata insan berlawanan dengan kata janna (halus, tidak nampak) atau jin (mahluk halus).      Padanan kata lain yang bermakna “tertutup” adalah majnun (orang tertutup akal), junnatun (perisai), janiin (tersembunyi), jannatun (taman tertutup).

Dalam masalah unsur material fisik manusia, Al-Qur’an menerangkan dengan jelas bahwa manusia berasal dari thin (tanah) atau turob (debu, partikel tanah) atau sholsholin (tanah liat) atau hamain (lumpur hitam). Sehingga Basyar  mempunyai beberapa arti, bisa berarti manusia biasa (Al Kahfi 18;110), atau tanah yang ber-kembang biak (Ar Ruum, 30;20).

Sedangkan proses penciptaan manusia itu sendiri diterangkan berasal dari nutfah atau sel sperma. Didalam Nutfah sudah terkandung sifat gen yang akan di-bawanya kelak. Dari nutfah kemudian menjadi alaqoh (segumpal darah), kemudian menjadi mudghoh (segumpal daging). Proses penciptaan manusia ini disebutkan sebanyak 11 (sebelas) kali didalam Al-Qur’an.

Dari unsur pembentuknya ini terlihat bahwa manusia itu berasal dari benda yang sangat tidak layak untuk menjadikan kepalanya membesar (sombong). Sombong disini bukan saja diartikan sebagai kelakuan terhadap sesama manusia, tetapi juga sombong tidak mau tunduk patuh atas perintah Allah dan Rosul-Nya.

Karena unsur penciptaan manusia dari tanah liat, tanah dan air. Secara ruhaniah akan mengalami daya tarik menarik antara kekuatan unsur-unsur pem-bentuknya didalam diri manusia itu.

Konsep basyar ini juga memberi pemahaman bagi kita, kalau manusia itu “sepadan” dengan mahluk lain yang kasat mata seperti hewan, tumbuhan atau matahari. Dikarenakan kesepadanan dengan hewan dalam arti basyar ini, maka kebutuhan manusia dan hewan secara biologis sama, manusia dan hewan sama-sama membutuhkan makan, minum, kawin, dan kebutuhan biologis lainnya. Dan setiap  “binatang melata” apapun dimuka bumi itu dengan sendirinya musayyar (tunduk pada takdir Allah).  Tidak ada daya dan tiada upaya.  Kita tidak bisa me-ninggalkan makan dan minum (kecuali berpuasa), ini sunatullah yang tidak bisa dilanggar.

Yang membedakan antara manusia dan mahluk lainnya, tentu saja manusia diberi potensi mengembangkan ilmu dan keimanan dalam dirinya. Sehingga dengan akalnya itu diberi kebebasan memilih (mukhayyar). Simpanse tetap masih simpanse sedangkan manusia sudah bisa jalan-jalan ke ruang angkasa. Manusia sudah bisa bercakap cakap tanpa kelihatan dan kemajuan teknologi lainnya yang telah dicapai perdaban manusia. Hanya saja pertanyaannya apakah manusia itu mau tunduk pada aturan Allah atau mau ingkar.

Dalam pengertian  musayyar  dan mukhayyar  berimplikasi pada masalah takdir yang menimbulkan perdebatan diantara para ahli teologi, yang kemudian berpendapat  yang berbeda satu sama lain.  Pertama  apa yang disebut Kaum Jabariah membuahkan teori determinisme atau qadariah. Mereka meyakini bahwa manusia sebagai alat Tuhan, yang tidak ada kebebasan untuk mengatur nasibnya. Paham ini juga berpendapat bahwa Allah yang menciptakan seluruh pekerjaan makhluk-Nya dan manusia sebagai media saja,  tak ubahnya seperti wayang yang digerakkan oleh dalang.  Sedangkan Kaum Qadariyah yang dicetuskan oleh Al-Juhaeny Al-Bishry (wafat 699 M).  Paham ini berpendapat bahwa Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk menentukan nasibnya sendiri, sedangkan Allah sedikitpun tidak ikut campur.  Menurutnya, manusia masuk sorga itu mutlak karena amal yang dia lakukan dan manusia dilahirkan bebas dan merdeka untuk mengatur hidup dan kehidupannya. Ketiga adalah paham pertengahan antara keduanya adalah kaum Asy’ariyah yang berpendapat bahwa ada wilayah tertentu yang menjadi pilihan manusia untuk menentukan pilihannya,  namun tetap diling-kupi oleh takdir Allah. Kaum Asy’ariyah ini sering disebut dengan kaum Sunnah wal Jamaah.

Perlu kita pahami, factor keingin tahuan masalah takdir inilah yang sering menjerumuskan manusia pada hal syirik. Manusia meraba-raba arah takdir yang akan dijalaninya di dunia ini. Fenomena dukun, paranormal atau apapun itu namanya menjadi ikon dunia saat ini yang semuanya bersumber dari factor ini.

Sebutan “Bani Adam”

Bani Adam mempunyai pengertian “Umat manusia”, Suatu pandangan sisi social atau komunal manusia. Kata Bani Adam didalam al Qur’an disebutkan 7 kali namun yang tertangkap semuanya berbentuk nasihat bagi Bani Adam, yaitu

  • Memakai pakaian yang baik, (Al A’raf 7;26),
  • Jangan tertipu syetan (Al A’raf 7;27),
  • Gunakan pakaian yang baik ke mesjid  (Al A’raf 7;31),
  • Agar bertakwa dan mempercayai rosul (Al A’raf 7;35),
  • Ingatlah akan perjanjian dengan Tuhannya (Al A’raf 7;172),
  • Dan dimudahkan dalam kehidupannya (Al-Isro 17;70),
  • Memperingatkan akan godaan syetan (Yasin 36;60)

Berasal dari  3 (tiga) huruf , yaitu Alif, Nun, dan Sin

Kalau Basyar dan Bani Adam membicarakan fisik material dan komunal manusia, maka pengertian yang akan dibahas lebih ke sisi psikologis spiritual  yang dimiliki manusia.

Tiga huruf ini akan membentuk pengertian-pengertian Unasun yang berarti jinak, harmonis dan nampak yang diartikan bahwa manusia itu jinak– tidak liar seperti binatang–, harmonis karena bisa beradaptasi dengan lingkungan dan jelas nampak wujudnya. Ada lagi kata Anastu, yang berarti api atau melihat api disebut dalam al Qur’an sebanyak 3 kali, Kata Anasa disebut dalam al Qur’an sebanyak 225 kali dan kata Insun sebanyak 3 kali.

Sedangkan kata “insan” sendiri diambil dari akar kata “uns” yang menunjuk-kan sifat psikologis spiritual. Artinya manusia mempunyai fitrah spiritual. Kata insan ini disebut dalam al Qur’an sebanyak 65 kali. Insan ini kemudian dikelompok-kan menjadi tiga kelompok besar, yakni yang berhubungan dengan proses pencip-taan manusia, yang berhubungan dengan konsep sebagai khalifah atau pemikul amanah dan yang berhubungan dengan konsep predisposisi negatip manusia.

Insan yang berhubungan dengan konsep pemikul amanah.

Insan digambarkan sebagai sosok makhluk istimewa yang berbeda dengan hewan maupun tumbuhan. Insan adalah mahluk yang diberi ilmu (Al-Alaq,4-5), mahluk yang diberi kemampuan mengembangkan ilmu dan daya nalarnya dengan nazhar (merenung, mengamati, berpikir, menganalisa) segala perbuatannya (al-Naziat,35). Sehingga insan layak menjadi khalifah dimuka bumi. Untuk menjalankan fungsi kekhalifahan harus ditunjang pengetahuan yang memadai. Maka al Qur’an mengisyaratkan akan pentingnya ilmu pengetahuan yang harus dimiliki manusia, yang berupa,

  • Pengetahuan mengenai alam atau sains-sains ilmiah
  • Pengetahuan sejarah dan geografi, agar manusia bisa berjalan di muka bumi dan bisa menyaksikan timbul tenggelamnya suatu bangsa dan berikut kebudayaannya.
  • Mengetahui tentang diri pribadi manusia itu Sendiri.

Tugas seorang khalifah diantaranya menegakkan tata moral umat, tidak melakukan perusakan, melakukan perbaikan (ishlah atau reformasi) diatas bumi, memelihara pelestarian lingkungan hidup, menciptakan sesuatu yang baru yang akan membawa kemaslahatan bagi umat manusia, mengelola potensi sumber daya alam baik yang berada diatas permukaan bumi maupun yang masih tersembunyi. Maka semakin baik pengenalan seorang khalifah atas alam raya, akan semakin banyak potensi alam yang dapat dimanfaat untuk kesejahteraan umat. Pokoknya Insan itu harus berbuat baik (Al-Ankabut, 8), Insan juga yang akan diberi balasan sesuai apa yang dikerjakannya. Sehingga  insan inilah yang dimusuhi syetan (Al-Isra, 53).

Perlu kita sadari bahwa setiap orang pada dasarnya seorang khalifah (pemimpin), minimal pemimpin rumah tangga, pemimpin anak-anaknya, pemimpin tetangganya , pemimpin isterinya, ibu pemimpin anaknya dan paling minimal memimpin dirinya sendiri. Dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawaban atas yang di-pimpinnya.

Konsep predisposisi negatip manusia.

 

Sifat psikologis negatif  manusia mempunyai karakteristik  berikut,

–   Sifat manusia itu  tidak stabil (Fushilat 41;53),

–   Manusia cenderung dholim dan kafir (Ibrahim 14;34)

–   Sifatnya tergesa-gesa (Al Isro 17;67 dan Al Anbiya 21;37),

–   Gelisah dan enggan membantu (Al-Ma’arij 70;19),

–   Bakhil, kikir (Al Isro 17;100),

–   Dholim & bodoh (Al Ahzab 33;72),

–   Banyak membantah dan berdebat (Al Kahfi 18;54),

– Sok tahu (Al Fajr 89;15),

– Ingkar dan tidak tahu terima kasih (Al Adiat 100;6),

–  Senang berbuat dosa (Al Alaq 96;6),

–  Senang kemaksiatan (Al Qiyamah 75;5),

–  Cepat putus asa  (Hud 11;9 dan Al Fushilat 41;49),

–  Sombong namun cepat putus asa (Al Isro 17;83),

–  Manusia ditakdirkan untuk bersusah payah (Al Balad 90;4),

–  Besar kepala dan melampaui batas  (Al Alaq 96;6),

–  Sangat ingkar (Maryam 191;66),

–  Tidak tahu terima kasih (Al ‘Adiyat 100;6),

–  Menjadi kafir nyata (Az Zukhruf 43,14),

–   Mengingkari al Qur’an (Fushilat 41;41)

–   Meragukan hari kiamat (Maryam 19;66)

–  Tercela karena kufur (Abbasa 80;17),

Pengaruh lingkungan berdampak besar terhadap seorang insan dalam me-laksanakan penyembahan kepada Tuhannya. Disamping itu pula insan akan me-ngalami paradoksal yang harus berjuang menghadapi konflik diantara dua ke-kuatan yang saling bertentangan. Suatu saat insan mempunyai keinginan kuat  menjalani fitrahnya sebagai pemikul amanah Allah dan dilain waktu mempunyai keinginan kuat pula untuk mengikuti predisposisi negatif hawa nafsunya. Keduanya akan saling mempengaruhi dengan kuat. Hanya saja pengaruh mana yang akan memenangkan pertempuran dalam diri insan ini? Semua bergantung pilihan insan itu pribadi. Allah telah  memberi kebebasan memilih (mukhayyar) bagi manusia untuk condong kearah mana. Namun sebelumnya al Qur’an telah memprediksi akan hal ini.

Gambaran sifat spiritual insan ini jelas disebutkan dalam al-Qur’an sebagai sesuatu yang apabila ditimpa musibah cenderung menyembah Allah dengan ikhlas, namun apabila mendapat keberuntungan akan cenderung sombong, takabur bah-kan musyrik (Yunus 10;12).  Insan pada saat kesulitan maka dia akan bersungguh sungguh ber-do’a dan kemudian bila lepas dari kesulitan akan ingkar lagi (Az-Zumar 39;8 dan 49), apabila diberi nikmat menjadi ingkar, bila ditimpa malapetaka ia banyak berdo’a (Fushilat 41;51).

Akhirnya, blamana insan ini bisa menjalani kehidupannya dengan baik, maka jadi-lah manusia sebagai makhluk individu, makhluk biologis dan  makhluk psikologis spiritual yang sempurna. Kelak dihadapan Tuhan menjadi  makhluk ciptaan-Nya yang terbaik (fi ahsan al taqwim).

Yang dibicarakan diatas merupakan fisik material manusia. Sedangkan unsur in-material diri manusia diuraikan dalam bentuk Fithrah, Nafs, Qalb dan Ruh. Kalau dilihat dari sisi bahasa asal kata fithrah diambil dari kata “al-fathr” yang artinya “belah atau belahan”, misalnya mencangkul (membelah tanah). Syahdan Ibnu Abbas ra memahami kata al-fathr menjadi “asal kejadian” atau “penciptaan” dari percakapan orang Badawi. Adapun  Muhammad bin Asyur menafsirkan dengan

Fithrah adalah bentuk dan system yang diwujudkan Allah pada setiap   mahluk. Fithrah yang berkaitan dengan manusia adalah apa yang diciptakan      Allah pada manusia yang berkaitan dengan jasmani, akal, serta ruhnya.”

Dalam kontek arti penciptaan, maka fithrah dalam berbagai bentuk terulang sebanyak 28 kali dimana 14 kali dalam kontek uraian tentang bumi dan atau langit. Sisanya menceritakan penciptaan manusia baik dari sisi penciptaan maupun dari sisi uraian tentang fithrah manusia.

Dalam surat Ar-Rum,30;30 :

Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama (pilihan) fithrah Allah yang         menciptakan manusia atas fithrah itu. Tidak ada perubahan pada fithrah         Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak menge-       tahuinya”.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam    dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka     (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul        (Engkau Tuhan kami),kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu)         agar di hari kiamat          kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani    Adam) adalah orang-orang yang          lengah terhadap ini  (keesaan Tuhan) ?”.

Al A’raf  (7) : 172.

Merujuk pada ayat diatas, dapat disimpulkan bahwa manusia sejak awal kejadiannya membawa “potensi” mengenal Allah atau beragama. Orang jaman dahulu sudah mengenal tuhan berdasar pada persepsi otaknya. Maka terbentuklah bermacam sesembahan dan agama di muka bumi ini. Ada agama kultur yang ber-asal dari adat budaya yang kemudian melahirkan agama primitip yakni  animisme, dinamisme, totemisme.  Ada agama Madia yakni pantheisme, politheisme. Ada agama yang berasal dari renungan filsafat dan ada juga ada agama hasil asimilasi-akulturasi-sinkretisme.

Fitrah manusia yang cenderung ingin mentauhidkan Sang Pencipta akan membentuk fithrah tauhid. Namun perlu diketahui bahwa fithrah tauhid disini masih bersifat “samar” belum mengalami pencerahan yang berarti. Pencerahan hanya dapat dilakukan dengan di “asah” dengan amal sholeh. Dan bilamana gagal dalam melaksanakan amal sholeh maka kecenderungan fithrah manusia beralih kepada pemuasan kesenangan jasmaninya, Ini mengembalikan asal manusia kearah basyar.  Amal sendiri dilakukan sampai nafas di ujung tenggorokan, yang kemu-dian kita mengenal “belajar (ngaji) dari mulai buaian bayi sampai liang lahat”,  “tanamlah pohon meski besok akan kiamat”.

Ada teman saya yang hidupnya serba kekurangan sebagai guru honorer sekolah swasta. Honornya dibawah UMR kabupaten. Namun setiap malam dia berdo’a agar bisa beramal pada sesama. Beliau akan terlihat sedih bila selama 24 jam tidak ada orang yang meminta tolong padanya. Dia tekuni dari memandikan jasad mayat rusak  ditengah malam karena tabrakan, meminta sumbangan untuk menyekolahkan orang miskin sebanyak 38 orang, jadi da’i yang honornya untuk disumbangkan dan pekerjaan lainnya yang menurut  pemikiran kita sangat tidak masuk akal. Beliau berpendapat  bahwa apapun yang dia kerjakan hanya satu keinginan untuk menutup dosa-dosa yang telah lalu dan menghindari diri dari  panasnya api neraka. Ini belum sampai bicara pada arah sorga. Subhanallah.

Dalam kehidupan kita tejadi proses perubahan skala massif pada segala bidang telah menimbulkan gejolak social lingkungan yang menempatkan posisi spiritual manusia mengalami degradasi yang significant, sehingga manusia terjebak didalam lingkaran hawa nafsunya dan menimbulkan konflik akut dalam kehidupan manusia itu sendiri. Saling sikut, hedonism, materialis, mementingkan diri, me-nyombongkan pangkat jabatan sudah menjadi hal yang sangat lumrah. Bahkan nilai keberhasilan seseorang dinilai dari berapa asset yang dimilikinya.

Nafs  atau nafsun berarti “diri” atau “totalitas manusia”. Menurut Al-Kindi nafs ini terletak berada pada titik pertengahan antara akal dan alam benda. Nafs ini termasuk eksistensi sangat bebas dan tidak binasa. Dia akan turun dari dunia akal ke dunia panca indera. Menurut Ibn Maskawih

Sesungguhnya nafs itu merupakan eksistensi yang bebas (basith-mengikuti    kesenangan bukan karena takut pada Allah), tidak dapat dirasakan oleh          panca indera. Panca indera dapat mengenalinya melalui perwujudan       eksitensinya, tahu bahwa dia mengetahui dan juga berbuat”.

 

Qalb (dalam bahasa Indonesia sering dikatakan kalbu), berarti “membalik” atau “bolak-balik” artinya qalb ini bersifat tidak konsisten. Hari ini bisa ya dan besok bisa tidak. Qalb ini merupakan tempat bersemayam (wadah) dari buah pengajaran, sifat kasih sayang, rasa ketakutan dan  keimanan seseorang (Lihat Qaf,37 ; Al-Hadid,27; Ali Imran,151).  Pada dasarnya manusia dapat menangkap dan memahami ayat-ayat Illahi atau Sunatullah melalui qalbunya, begitu juga arti dan pemahaman tentang kasih sayang dan sebagainya. Sehingga apapun yang dikerja-kan  qalb ini akan disadari penuh oleh si pemiliknya.  Dan karenanya, Allah swt akan meminta pertanggung jawaban si pemilik qalbu dihari akhir nanti.

“..tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja        (untuk bersumpah) oleh hatimu”. (Al-Baqarah, 225).

B E R  S A M B U N G……………………………………

 

Pos ini dipublikasikan di Forum Islam. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s