Makna Dibalik Ritual Haji

Haji memiliki lima ritual inti, yakni ihram, thawaf, sa’i,
wukuf dan melempar jumrah.
Apa makna atau pelajaran yang harus dipetik dalam ritual tersebut ??
jika kita tidak dapat memetik makna dari ritual haji tersebut,
maka ada yang kurang dari perjalanan haji kita,
mungkin kita sebagaimana para sufi sebutkan…….
kita memang ke Mekkah, kita mengelilingi ka’bah,
kita berlari-lari di antara bukit Shafa dan Marwah,
berada di padang arafah, melempar jumrah,
tetapi……kita sebenarnya belum HAJI…….
kita baru tamasya ke tanah suci

IHRAM

Ihram adalah simbol penyucian diri, awal keadaan manusia adalah sama, tidak ada apa-apa kecuali ruh serta sifat-sifat mulia Allah yang ditiupkan dalam ruh tersebut. Sifat-sifat mulia Allah swt yang merupan unsur-unsur dari Asma’ul Husna akan bersarang di dalam qalbu manusia yang paling dalam, dan menjadi fitrah manusia. Sifat-sifat mulia Allah ini selalu muncul dari diri manusia, hanya kadangkala kita tidak menyadarinya. Kadar sifat-sifat Allah tersebut tergantung banyaknya noda yang menyelimuti qalbu. Noda-noda tersebut merupakan hasil karya syeitan yang berupa kesombongan, kerakusan, kedengkian atau kemalasan. Semakin tebal noda yang menyelimuti qalbu kita maka semakin tidak nampak sifat-sifat mulia Allah dalam perilaku manusia. Contoh sifat-sifat mulia Allah yang melekat di dalam qalbu yang manusia yang paling dalam dan menjadi fitrah manusia adalah :

Fitrah Manusia Asma’ul Husna
Kasih – sayang 

Keadilan

Kejujuran

Ar Rahman    (Maha Pengasih) 

Al ‘Adl           (Maha Adil)

Al Haq          (Yang Maha Benar), dll

Dengan Ihram, dibersihkanlah segala noda yang menyelimuti qalbu. Yang di Ihram-kan bukan hanya jasmani saja dengan menanggalkan segala pakaian dan atribut yang melambangkan kemewahan, status soial dll dan digantikan dengan dua lembar kain sederhana yang mengisyaratkan ketertundukan manusia di hadapan Sang Khaliq; tetapi juga yang di ihramkan adalah qalbu, agar mudah menerima hidayah sehingga fitrah manusia atau potensi diri yang luar biasa bisa di bangkitkan kembali.

THAWAF

Dalam alam makrokosmos, semua benda di alam raya ini matahari, bulan, bumi dan kurang lebih 100 milyar bintang-bintang dan planet berbagai ukuan semuanya berputar, berkeliling, berthawaf dan bertasbih mengelilingi mengelilingi orbitnya.

Dan dialah yang Telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya. (QS 21, Al Anbiya 33)

Demikian pula dalam alam microkosmos, elektron berputar mengelilingi inti atom, gerakan ini merupakan gerakan thawaf elektron. Ini semua merupakan pesan dari Allah swt agar manusia pun harus bergerak pada garis orbit, dan harus mengetahui apa dan siapa sebenarnya pusat orbitnya. Akal pikiran kita pun berthawaf namun ada garis orbit yang harus diikuti yaitu syari’at, agar supaya akal pikiran kita tidak liar atau beku. Akal pikiran yang menolak syari’at akan liar mengikuti hawa nafsu, atau bertahan dalam tradisi yang anti modernitas

Dalam gerakan thawaf mengelilingi ka’bah dimulai dari Hajar Aswad dengan me-nyentuhnya atau dengan isti’lam, kemudian berbaur dengan orang banyak, laksana kita telah memasuki system alam semesta yang universal. Dalam kondisi yang demi kian kita terus bergerak sesuai irama orang banyak, sebab jika berhenti  atau meng-ubah posisi atau memalingkan kepala maka terlemparlah kita dari garis edar thawaf.

Pada saat thawaf mengelilingi Ka’bah rasakan, bahwa hanya DIA yang terlihat, dan kita bagaikan sebuah partikel di dalam gerakan sirkular yang merupakan orbit dari gerak thawaf, dan posisi kita adalah berpasrah diri.

SA’I

Rizki yang disediakan Allah swt kepada makhlukNya tidak begitu saja di tumpahkan dari langit, namun harus diburu, diusahakan dengan sekuat tenaga dan kemampuan nya serta tidak boleh putus asa. Siti Hajar, tak pernah putus asa dalam menjemput rizki yang telah disediakan Allah swt, pikirannya tak pernah ragu bahwa Allah pasti telah menyediakan rizki bagi setiap mahluknya. Untuk itu beliau telah membuktikan langkah menjemput rizki ini dengan sa’i, yaitu berlari-lari dari bukit Shafa ke bukit Marwah berulang-ulang sebanyak tujuh kali.

Ritual sa’i melambangkan aktivitas kita sehari-hari yang harus dipenuhi dengan kerja nyata, kerja cerdas dan kerja halal dan ikhlas, dengan dilandasi penuh keyakinan bahwa Allah swt pasti memberi peluang sukses. Kegagalan yang dialaminya anggaplah sebagai kesuksesan yang tertunda, ulangi usaha tersebut berkali-kali tanpa mengenal kata putus-asa hingga Allah swt membukakan pintu rizki nya untuk kita, entah itu rizki dalam bentuk materi yang menyenangkan, fisik yang sehat, ilmu yang tinggi atau posisi yang dihormati.

WUKUF

Sekitar empat juta jamaah haji hadir di padang Arafah, di padang inilah gambaran para manusia berkumpul di padang masyhar kelak. Semuanya sama di hadapan Allah yang membedakan hanya kedekatan dan pengorbannya kepada Allah SWT.

Di Padang Arafah manusia menemukan makna jati dirinya, disana manusia akan merenungkan langkah-langkah yang selama ini ia jalani, yang akhirnya bermuara pada keagungan Allah swt. Hanya kepada Nya, manusia akan bersimpuh serta me-manjatkan do’a-doa permohonan dan ampunan karena menyadari kekuasaan Allah dan menyadari jati dirinya di hadapanNya. Akhirnya dengan kesadaran dan menge-tahui tentang jati dirinya serta hakekat perjalanan hidup akan menghantarkan manu-sia tersebut selalu berbuat arif dalam menghiasi perjalanan hidupya. Ia tidak akan berburuk sangka, mencari kesalahan dan kekurangan orang, tidak cepat marah atau tersinggung walau orang lain menyakitinya karena jiwanya selalu dipenuhi nur Ilahi.

Demikian pula rizki yang kita usahakan melalui sa’i harus mampu kita “wukuf”-kan. Di  hadapan  Allah  semua  rizki  akan  dinilai  berdasarkan  manfaatnya  ditengah masyarakat. Apalah arti kekayaan kalau tidak dibagi kepada dhuafa dan yatim, apalah arti tubuh yang sehat dan kuat kalau tidak digunakan untuk amar ma’ruf nahi munkar, apalah arti ilmu yang tinggi kalau tidak dipakai mencerdaskan umat, apalah arti posisi yang dihormati bila tidak mampu mengayomi masyarakat.

MELEMPAR JUMRAH

Semua jalan di atas mulai dari pensucian diri (ihram), mengikuti orbit sunatullah (thawaf), kegiatan sehari-hari dalam usaha mencari rizki yang halalan thoyyiban (sa’i) dan proses penemuan jati diri (wukuf) pasti akan diganggu. Iblis la’natullah akan menebarkan setan-setannya dalam wujud kesombongan, kerakusan, kedeng-kian dan kemalasan. Mereka semua akan gentayangan mencari titik lemah manusia untuk  diselewengkan  agar  qalbunya  ternoda,  keluar  dari  orbitnya  serta  rizkinya terkontaminasi dengan yang haram. Karenanya, setan-setan ini harus dilempari, sebagaimana para jamaah haji melempar jumrah. Setan-setan tersebut tidak cukup hanya dilempar sekali, tetapi harus berkali-kali dan disetiap titik setan berkumpul. Amunisi yang digunakan untuk melempar setan adalah batu yang telah dipersiapkan sebelumnya secara diam-diam agar tidak diketahui musuh (mabit di Mudzhalifah)

Meng-ihramkan hati, men-thawafkan pikiran, men-sai-kan aktivitas, me-wukufkan rizki yang diterima dan me-lempar jumrah pada penghalang amal kita ini selayaknya mampu dihadirkan oleh siapapun, termasuk oleh mereka yang karena faktor finansial, kesehatan atau quota belum mampu memenuhi panggilan Allah ini. Meski demikian, penghayatan nilai-nilai haji ini tentu saja bukan substitusi dari ibadah haji ke tanah suci. Tentu saja, para haji sepulang dari Mekkah, ditunggu perannya menjadi teladan dan agen dalam transformasi bangsa ini, ke arah yang lebih mulia.

Para ulama’ menyampaikan bahwa salah satu tanda kemabruran haji seseorang dapat dilihat pasca pelaksanaan haji, yakni orang tsb menjadi lebih baik dari sebe-lumnya dan tidak mengulangi lagi perbuatan maksiat yang pernah dilakukannya.

Apakah kita telah meraihnya ? Wallahu a’lam bishshawab

A Karma Sentika

(Buletin Jum’at DKM Al Hikmah, No. 42, tgl 20 November 2009)

Pos ini dipublikasikan di Forum Islam. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Makna Dibalik Ritual Haji

  1. Kang Ical berkata:

    Kang Ustadz AKS, Terimakasih atas pencerahannya, adakah pengalaman menarik Kang Ustaz selama melaksanakan ibadah Hadji ini, yang barangkali akan menjadi reff bagi khususnya yang belum dan akan melaksanakan ibadah Hadji ini.
    wass
    RZ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s