Opor Elang

Kita mengenal opor biasanya berisi tahu dan tempe, ayam atau daging sapi yang dipotong – potong persegi, dan tentu sangat janggal jika Opor yang kita hidangkan berisi Elang, atau Opor Elang, karena tidak biasa Elang kita jadikan hewan potong.

OPOR  ELANG

Suatu hari seorang petani Indian mencari kayu di hutan ditepi tebing batu tinggi dari lereng gunung, syahdan dia menemukan sebutir telur Elang dan serta merta telur tersebut dia bawa pulang, sesampainya dirumah telur itu dia letakkan dipetarangan ayamnya yang saat itu kebetulan sedang mengerami telor.

Telor Elang itupun menetas bersamaan dengan telor-telor yang lain, dan Induk ayam menganggap bahwa semuanya adalah anaknya termasuk bayi elang tersebut, begitu juga bayi elang tersebut menganggap dirinya adalah anak ayam sama seperti yang lainnya.

Dari hari ke hari dia berjalan seperti ayam , makan dan minum seperti ayam bermain dengan saudara-saudaranya (ayam) dan belajar bersama untuk menjadi ayam yang pandai dan perkasa demikian juga sang induk ayam merawat mereka dengan penuh kasih sayang dan jadilah mereka tumbuh dengan gagah, cantik dan perkasa.

Si Elang mendapati dirinya tumbuh lebih besar dari saudara-saudaranya , paruhnya tajam walau agak melengkung, cakarnya demikian kuat hingga dialah ayam yang paling disegani diseantero kampung bahkan desa. Dia tetap berjalan, makan dan minum seperti ayam dan dia selalu menganggap dirinya adalah ayam yang sangat kuat. Hingga suatu hari tampaklah seekor Elang dewasa terbang diatas desanya, gagah demikian anggun elang tersebut merentangkan kedua sayapnya yang besar jeritannya memekakan telinga dan seketika terdengar teriakan ayam-ayam dewasa berteriak lari ! lari ! musuh datang sembunyikan dirimu selamatkan dirimu, dan anak elang mendengar induknya (ayam) berteriak hei..sembunyi cepat dikolong jangan bengong ! itu adalah Elang musuh kita …lariii !!!

Sesaat si Elang memandang keangkasa dengan kagum dia melihat burung seperti dirinya ..eh bukan dia terbang dengan gagahnya … jeritannya melengking tajam melumpuhkan saraf dan hinggaplah sang Elang diatas atap rumah sambil matanya tajam menatapnya, keruan induk ayam berteriak sekuat tenaga dalam isak tangis ..lariii ..lariii anakku selamatkan jiwamu !! sang elang muda bagai terhepnotis memandang Elang dengan kekaguman dan telinganya mendengar suara Hey…kenapa kamu berjalan disitu ..kepakan sayammu ..mari terbang bersamaku, dan serta merta elang muda mengkibas-kibaskan sayapnya namun tubuhnya tak bergeming ….lagi lebih keras lagi oh alangkah loyonya kamu , badanmu gemuk dan lihat cakarmu kotor dekil dan rusak ..ayo coba terus teriak Elang perkasa memberi semangat. Sang Elang muda mencoba dan mencoba terus dikepakan sayapnya sekuat tenaga debu berterbangan dimana-mana sedikit demi sedikit tubuhnya terangkat hingga 30 cm namun dia kecapekan dan bum tubuhnya terhempas kembali kebumi muka terbentur batu, “anakku kenapa kamu …jangan gila ..larilah berlindung !!” teriak induk ayam memelas menangis takut akan keselamatan anaknya.

Sejak saat itu Elang muda selalu termenung … dia membayangkan dirinya terbang dilangit dengan gagah dan menjerit memekakan telinga dia berputar dikampung untuk menjaga keamanan kampungnya. Beberapa kali dia mencoba mengibaskan sayapnya dan beberapa kali juga tubuh gemuknya terhempas, mukanya sudah penuh luka terjerembab ditanah, otot sayapnya nyeri bahkan menjadi kaku karena pengerasan otot…dan …dia putus asa, Induk ayam selalu mengelusnya dengan penuh kasih sayang dipijitnya tubuh sang elang dan sambil terisak dia berkata lihatlah dirimu Nak kenapa kamu, lihatlah Emak, lihatlah saudara-saudaramu engkaulah harapan emak …jangan siksa dirimu , lihatlah semua saudaramu menyayangimu…sadarlah nak janganlah lagi engkau siksa dirimu.

Elang muda itupun luluh hatinya …dia tak lagi mencoba untuk terbang, dia adalah ayam maka diapun kembali berperilaku seperti ayam walaupun dia ayam yang sangat disegani …dia berjalan , makan, minum dan tidur layaknya ayam …lalu diapun berperangai seperti ayam dan mati seperti ayam, di potong untuk dijadikan opor …. Opor Elang !

T A M A T

Cerita dengan akhir tragis demikian selalu sarat membawa pesan makna :

Elang adalah seekor burung pemangsa yang sangat gagah, kombinasi kuatnya cakar dan tajamnya kukunya akan melumpuhkan mangsa saat dicekeramannya , matanya tajam dan sayapnya yang lebar besar menjadikannya dapat bergerak bak halilintar menyambar mangsanya, pekikannya melengking memakakan telinga yang mampu melumpuhkan syaraf mangsanya hingga bergerak menghindarpun mereka tak kuasa.

Namun Elang yang perkasa adalah Elang yang tumbuh dewasa dalam lingkungannya, dalam habitatnya yang memaksa dia melatih dirinya dengan disiplin dan keras, bahkan kegagalan latihannya berarti mati.

Dari cerita diatas tersirat bahwa Bakat dan Tingginya tingkat kecerdasan tak berguna banyak tanpa suatu latihan / tempaan diri yang keras, belajar, berlatih dan disiplin untuk tetap mencapai pengasahan diri merupakan kunci sukses, menempa bakat dan kecerdasan agar menjadi kompetensi yang berguna sesuai garis-garis yang kita terima dari Allah SWT.

Semarang , 12 Desember 2005

M. Faried Fannani

Pos ini dipublikasikan di Umum. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Opor Elang

  1. Mas FF, moga alumnisksd pmtnt dapat hidup dalam habitatnya sebagai seorang manusia yang mengerti kenapa dia diciptakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s