MUNGKINKAHKAH ORANG BAIK MASUK NERAKA

Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk paling sempurna dimuka bumi, konsekwensi logis sebagai mahluk sempurna dia diciptakan memiliki kompleksitas struktur anatomi fisik dan psikis yang tinggi sehingga memiliki tingkat fleksibilitas yg tinggi ketika manusia harus menjalani kehidupan yang kompleks pula.

Dalam konsep agama samawi manusia diciptakan untuk hidup selamanya, tapi dibagi menjadi dua bagian yaitu kehidupan didunia yang dibatasi kematian dan kehidupan sesudah mati yang tidak berbatas waktu. Sesudah pengadilan masal dipadang mahsyar, kehidupan manusia dibagi lagi menjadi kehidupan di neraka jahanam dan kehidupan di surga nan indah. Lalu ada yang hidup kekal di neraka jahanam tapi ada juga yang sesudah menebus dosanya (di’cuci’) dineraka dimutasi lagi kesurga yang kekal.

Agar seluruh manusia bisa bahagia hidup didunia dan sesudah mati sesuai dengan kehendakNya, Tuhan memberikan berbagai petunjuk, dan menunjuk utusanNya di dunia serta menganugrahi manusia dengan akal dan pikiran. Kebahagiaan itu akan tercapai bila manusia berpegang pada tali (agama) Allah atau habluminallah dan tali (perjanjian) dengan manusia atau habluminannas (QS. 3 Ali Imran 112). Dengan kata lain habluminallah dan habluminannas merupakan relationship dalam korelasi antara Tuhan, manusia, kehidupan didunia dan kehidupan sesudah mati (diakhirat).  

Manusia yang menjalani kehidupan sesuai fitrahNya, secara naluriah akan senantiasa berbuat baik karena Tuhan telah menanamkan kebaikan tersebut didalam hati manusia ketika ruh ditiupkan kedalam fisiknya (pada usia kandungan 4 bulan).

Ada banyak manusia berahlak tinggi dimuka bumi ini, mereka ada yang berlatar belakang ilmuwan, agamawan, usahawan, negarawan dsb. Wujud kebaikannya beraneka ragam; memberikan beasiswa pendidikan, memberikan pondokan bagi kaum homeless, memberi makan-minum fakir miskin, menjadi orang tua asuh, mendirikan Rumah Yatim, mendirikan Rumah Sakit, memimpin perjuangan kemerdekaan bangsa dan negaranya dsb. Pertanyaannya, bila mereka berasal dari kalangan non muslim, apakah mereka akan menjadi penghuni Surga? Atau; ”Apakah ahlak yang baik sanggup mengantarkan seseorang ke masuk Surga atau tidak?”      

Seorang bijak memberi satu jawaban untuk pertanyaan tsb.; “ Kalau akhlak dijadikan patokan oleh Tuhan untuk menentukan pantas tidaknya seseorang masuk surga, maka agama tidak diperlukan lagi di muka bumi ini”

Pada kenyataannya tanpa agamapun orang bisa berahlak baik, di negeri atheis seperti di Rusia, China dll, banyak orang yang tak beragama tapi memiliki akhlak yang baik, demikian pula diantara teman atau tetangga kita terdapat orang yang mengaku muslim tapi  tidak pernah sholat namun memiliki akhlak yang lebih baik dari seorang muslim yang rajin beribadah. Namun tujuan tulisan ini bukan untuk menyatakan bahwa seseorang yang berahlak tinggi lebih baik dari menjadi seorang muslim berperilaku buruk,  atau sebaliknya.

Tujuan tulisan ini adalah upaya penyadaran bahwa ternyata Tuhan tidak menuntut dari manusia sekedar akhlak yang baik tapi ada aspek lain yang lebih utama dibanding akhlak.

Hadits riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda; Neraka dan surga saling berdebat, lalu neraka berkata: Aku dimasuki oleh orang-orang yang suka menindas dan sombong. Surga berkata: Aku dimasuki oleh orang-orang yang lemah dan miskin. Lalu Allah berfirman kepada neraka: ”Aku menimpakan bencana berupa Kamu (neraka) kepada orang yang Aku kehendaki”. Dan Allah berfirman kepada surga: ”Kamu adalah rahmat-Ku, Aku limpahkan rahmat berupa kamu (surga) kepada siapa yang Aku kehendaki. Dan masing-masing kamu memiliki penghuninya sampai penuh.”

Ada perspektif yang sama antara hadits diatas dengan hadits berikut; Rasulullah SAW bersabda, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita dapat masuk surga?” . Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.

Makna dari kedua hadits tersebut diatas yaitu; bahwa perbuatan baik (akhlak) dan ibadah kita ternyata tidak mampu untuk mendapatkan tiket ke surga. Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk mendapatkan surga tetapi untuk mendapatkan rahmat dan kebaikan Allah. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita, belum sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah. Sekali lagi, hanya karena kebaikan dan rahmatNya lah kita bisa masuk ke surga.

Disamping itu, akhlak dan amal ibadah ternyata juga tidak cukup menjamin kita terbebas dari api neraka, hanya ampunan-Nya lah yang bisa membuat kita terbebas dari api neraka. Karena itu kita diminta banyak memohon rahmat dan ampunan Allah

Lalu, syarat apa yang harus dipenuhi agar doa kita memohon rahmat dan memohon ampunan Allah bisa diterima? Sebab tidak semua orang diberi rahmat surga, dan tidak semua orang diberi ampunan dari ancaman neraka. Syarat utama agar permohonan rahmat dan ampunan kita bisa diterima adalah; beriman kepada-Nya dan rasul-Nya (melalui syahadat), kita harus memiliki aqidah yang benar, memahami siapa Tuhan yang disembahnya dengan benar, apa yang dimaui-Nya, bagaimana cara mencintai-Nya..

Aqidah adalah aspek utama yang membedakan Islam dengan agama lainnya, bila ibadah dan akhlak buruk ‘mungkin’ manusia masih berpeluang masuk surga setelah penebusan dosa (di’cuci’) dulu di neraka, tapi bila aqidahnya salah maka kekallah ia di neraka!. Aqidah Islam merupakan syarat pokok sahnya semua amal kebajikan manusia.  Dosa yang tidak diampuni Allah SWT adalah pelanggaran aqidah berupa syirik, yaitu mensejajarkan Allah dengan makhluk atau benda ciptaan-Nya. Allah berfirman, “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang yang merugi” (QS, Az-Zumar: 65). Terhapusnya amal manusia selama hidup, sama dengan sia-sialah hidupnya

Apakah Benar Anggapan Bahwa Sifat Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang akan
membuat Allah tidak mungkin tega menghukum orang yang baik hati dan berahlak tinggi?

Di akhirat kelak orang yang tidak beriman kepada Allah akan membawa amal kebaikannya ke hadapan Allah, tapi kemudian Allah tidak menerimanya, seperti tersebut dalam Al Qur’an surat Al Furqan ayat 23, “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan”.

Mengapa Allah bersikap setegas ini? Sebab Allah telah menganugerahi manusia dengan akal dan pikiran agar manusia dapat memilih hal yang baik atau buruk, firman Allah : “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (QS, Al-Balad 90:10). Serta “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS, Al-Insaan 76 : 3).

Kesimpulan dari seluruh uraian diatas adalah; Bahwa mungkin saja orang baik masuk neraka, sebab untuk menjadi penghuni Surga berahlak baik saja tidaklah cukup tapi harus disertai dengan menjalankan aqidah agama yang benar, sehingga dia memperoleh rahmat dan kebaikan berupa Surga dari Allah ta’ala. Lain dari itu, kebahagiaan didunia dan  diakhirat bisa tercapai bila dalam kehidupan didunia manusia berpegang pada tali (agama) Allah atau habluminallah dan tali (perjanjian) dengan (sesama) manusia atau habluminannas.

Wallahu a’lam bish shawab.

Salam, Asep salmon.

Pos ini dipublikasikan di Forum Islam. Tandai permalink.

10 Balasan ke MUNGKINKAHKAH ORANG BAIK MASUK NERAKA

  1. rizal550571 berkata:

    Alhamdulillah, hatur nuhun kang atas pencerahannya.
    wass
    rz

  2. gnw-grt berkata:

    Alhamdulillah wa syukurillah, Kang Asep tulisan yang penuh makna ini, Insya Allah menjadi ibrah bagi kita, bahwa yang harus kita perbuat di dunia ini adalah menggapai rahmat dan ridla Illahi robbi, amiin.
    Kita masih terjebak terutama saya, dengan menghisab amalan-amalan dzahir kita saja seperti shalat, tahajud, puasa, qurban dll, padahal jauh yang lebih utama adalah menggapai Ridla dan RahmatNya..
    Tulisan yang lainnya ditunggu yah….

    • AS berkata:

      Aaaaah kang Haji, saya yang sedang belajar lis tulis jadi malu sendiri baca komentar kang yang makin matang pengamalannya malah makin menunduk. Hatur nuhun…

  3. mj berkata:

    terima kasih ustad asep. jazakallahu.

  4. bachrul berkata:

    Klo boleh disimpulkan,inti kesuksesan hidup manusia di dunia dan akhirat adalah implementasi hablumminallah dan hablumminannas sesuai tuntunan nabi Muhammad saw. Bukankah begitu kang asep?

  5. AS berkata:

    Betul banget cak, penekanannya diimplentasinya…
    Tengkyu….

  6. Ustadz kang Asep S (UAS), cukup mantap tausiahnya. memang kita diciptakan untuk beribadah kepadanya (Hablumminallah), dan kita harus berbuat kebaikan kepada sesama (hablumminannas). Sebaik-baik manusia adalah manusia yang berguna kepada manusia lainnya. Maka berlomba-lomba lah kepada kebaikan. teruskan pak Ustadz do’a nya……. insya Allah kita dapat menggapai Rahmat dan Ridhonya ……… Amin

  7. Asep Salmon berkata:

    Thanks 4ur comment bang ustadz Udin, insya Allah kita jadi orang2 yang berguna bagi sesama.. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s