RESUME BUKU

Judul Buku   : Melihat Kebaikan dalam Segala Hal

Judul Asli      : Seeing Good in All

Pengarang    : Harun Yahya

Penerbit        : Senayan Abadi Publishing, 2003

Penterjemah: Aminah Mustari

Tebal             : ix + 158 halaman

Bagaimanapun juga, dalam pandangan Allah setiap kata yang Anda ucapkan dan setiap pikiran yang terlintas dalam benak Anda telah diketahuiNya. Setelah mati, di mana masing-masing manusia telah ditetapkan waktunya, rekaman setiap tindakan kita akan akan dibeberkan dihadapan kita.

Yang akan terlihat dari kehidupan kita hanyalah terdiri atas detik demi detik, tanpa terlewat satu bagian kecilpun. Dalam pandangan Allah, tak ada perincian hidup kita yang terlupakan.

Nukilan kalimat Harun Yahaya dalam bab Pendahuluan tersebut sudah memagari kearah mana jalan yang harus diambil bagi manusia yang secara fitrah memahami proses kehidupan yang dimulai sejak lahir, beranjak tumbuh dewasa dan yang akhirnya akan sampai pada perjalanan akhir di dunia.

Proses kehidupan tersebut diyakini terjadi terhadap siapa saja; permasalahannya sepanjang proses kehidupan banyak hal yang menimpa atau dihadapi masing-masing manusia, baik yang percaya pada kehidupan setelah kematian, yang masih ragu, ataupun bahkan tidak tahu tentang kehidupan sesudah kematian.

Bagi insan yang meyakini keberadaan Yang Maha Kuasa, Zat yang menciptakan segala hal dalam memenuhi rencana-Nya; akan cenderung menjalani hidup untuk Ilahiah, maka dalam menghadapi kejadian yang ditemui, senantiasa didorong untuk memahami sebuah ayat Al-Qur’an, “Sesungguhnya, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” (al-Qamar:49).

Pemahaman ayat di atas akan semakin diperkokoh oleh ayat lain, “Sesungguhnya, kami telah menunjukkan jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir” (al-Insaan:3); logikanya dalam setiap mengarungi fase kehidupannya, ia akan lebih memahami kehidupan ini secara benar dan tepat, ia dapat membuat keputusan yang benar atas apa-apa yang ditawarkan kepadanya.

Secara implisit Harun Yahya, menebarkan pemikiran sederhana bahwa keyakinan seseorang atas pemahaman 2 ayat di bab Pendahuluan seyogyanya akan menemukan indahnya cahaya kehidupan dengan menyadari bahwa ada “kebaikan” dalam setiap fase waktu dan peristiwa yang dialami seseorang, serta diingatkan bahwa diri manusia senantiasa dalam keberkahan di dalam segala hal kejadian.

Ekspresi tersebut yang dijadikan sebagai dasar buku tersebut untuk mendorong seseorang agar dapat mengadaptasi prinsip-prinsip moral, sehingga terpateri prinsip, “Ada kebaikan di dalamnya.”

Melihat Kebaikan dalam Segala Peristiwa

Kalimat tersebut diidentifikasi sebagai ungkapan yang biasa dalam kehidupan sehari-hari, yang langsung terucap dengan pemikiran panjang ataupun dengan penuh hati-hati sambil mencermati peristiwa yang terjadi “Pasti ada kebaikan (hikmah) di balik kejadian ini” atau, “Ini merupakan berkah dari Allah”. Menurut penelaahan Harun Yahya, karena semata-mata ungkapan yang lazim terjadi dan menjadi kebiasaan, akan menjebak sebagian besar dari kita terlena memahami arti yang sebenarnya dari ungkapan tersebut yang kalau diangkat sebetulnya mengandung pengertian yang penting dalam kejadian sehari-hari.

Kemampuan menghayati “melihat kebaikan” berarti juga berkaitan dengan kesiapan manusia dalam tataran keimanan kepada yang Khaliq.

Tolok ukur kepahaman dan penghayatan dapat dilihat atas munculnya tanggapan seseorang ketika menghadapi kejadian apapun kondisinya (baik yang menyenangkan ataupun tidak) dengan sandaran penuh keihklasan, keyakinan yang tulus akan ketentuan Allah pada penghujung upayanya yang keras.

Kualitas moral  juga dapat digunakan sebagai ukuran seseorang dalam memberikan tanggapan atas permasalahan yang dihadapi. Kematangan pengendalian emosi, tidak adanya sedih, kecewa yang amat menekan, atau senang yang berlarut-larut akan apapun yang terjadiyang pada dasarnya akan menuntun seseorang mencapai keberkahan hidup di dunia dan akhirat, suatu harapan kebahagiaan yang tidak berakhir.

Keimanan seseorang akan menggiring bahwa peristiwa yang tampak pada awalnya tidak menyenangkan atau kesalahan yang menghunjam pada akhirnya akan bermanfaat baginya tanpa menyalahkan dengan frase: ‘kemalangan”, “kesialan” atau alasan “seandainya”.

Esensi yang diharapkan diawal penulisan ini, ditekankan oleh Harun Yahya, seyogyanya orang beriman memiliki penalaran untuk “bersyukur” dalam menemukan kebaikan yang menjadi hak Allah yang kekal; sebagaimana yang ditemukan dalam hadist:

Aku mengagumi seorang mukmin karena selalu ada kebaikan dalam setiap urusannya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur (kepada Allah) sehingga di dalamnya ada kebaikan. Jika ditimpa musibah, ia berserah diri (dan menjalankannya dengan sabar) bahwa di dalamnya ada kebaikan pula” (HR. Muslim).

Namun hal penting yang diingatkan bahwa keputusasaan atau keraguan menemukan kebaikan bisa berakibat fatal menjadikan ketakutan dan kegagalan, dampaknya kegelisahan, kesengsaraan yang mudah terhasut kedalam jalan sesat, masuk perangkap tipu muslihat setan. Ketergesa-gesaan yang tidak cukup sabar menemukan kebaikan sudah diingatkan Allah dalam Al Qur’an: ”Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa” (al-Israa’: 11).

Hitam Putih

Pada dasarnya setiap peristiwa, menjadi tergantung pada manusia dalam mensikapinya; dapat ditanggapi sangat sederhana, sederhana, pelik dan sangat pelik, tergantung pada kebiasaan atau tendensi atas peristiwa itu sendiri, pengalaman, persepsi yang terbangun dan banyak faktor lainnya.

Disisi lain “kedatangan” peristiwa yang muncul tiba-tiba atau tidak diharapkan pada saat tidak ada kesiapan, dalam sekejap dapat melemparkan hidup kita dalam kekacauan. Hal tersebut dapat dialami oleh siapa saja, kadang akibat dari kejadian bisa ditetapkan menjadi hitam putih, kaya raya tiba-tiba jatuh miskin, segar bugar menjadi terserang penyakit.

Ketika menghadapi kondisi yang hitam putih tersebut, pilihanpun apakah akan menjadi hitam putih, tergantung pada tingkat dasar keimanan. Bagi yang mengambil sikap kecewa, marah, kesal; maka seseorang tersebut mendekati kondisi yang tenggelam dan cenderung ke arah sifat kebodohan.

Kegagalan melihat kebaikan dalam peristiwa yang dialami, karena hilangnya keimanan terhadap takdir yang ditetapkan oleh Allah, sehingga senantiasa menganggap kesulitan yang dihadapi dalam kehidupan di dunia adalah semata “kesialan” yang diderita, pada saat itu akan berkata bahwa kegelapan yang hitam sedang menimpanya; tidak terpikir sepercikpun ada kebaikan-kebaikan yang ada dibalik kesulitan tersebut.

Pemahaman terhadap takdir

Jamak menjadi harapan setiap manusia, bahwa apa yang direncanakan atau diinginkan dapat tercapai; tetapi menjadi sebaliknya adalah apabila apa yang dicita-citakan terhalang atau kandas ditengah jalan. Bagi orang yang beriman, kondisi apapun yang dihadapi akan dihadapi dengan penuh keyakinan sesuai dengan tuntunan Al Qur’an.

Orang beriman memahami bahwa hidup bukan berdasar keberuntungan, kebetulan ataupun kesialan; tetapi menyadari bahwa setiap kejadian dalam hidupnya ditentukan sesuai dengan rencana dan tujuan tertentu. Dialah yang telah menciptakan alam semesta dan menetapkan setiap hal dalam detilnya.

Allah menurunkan hujan dan meninggikan matahari, menakdirkan seseorang mengalami kecelakaan, segala kejadian sampai yang detilnya. Kebijakan Allah yang tak terbatas telah direncanakan untuk hasil yang paling sempurna.

Takdir merupakan hak pengetahuan dan kekuasaan mutlak Allah yang sempurna atas segala peristiwa masa lalu dan masa depan; bagi Allah, masa lalu dan masa depan adalah satu.

Merujuk pada surat Al-Qamar: 49; bahwa segala hal yang ada di dunia adalah bagian dari takdir, pengertian tersebut didukung dengan pemahaman bahwa setiap peristiwa yang terjadi merupakan bagian kehidupan yang sudah diciptakan sebagai suatu rangkaian perjalanan hidup. Tidak ada kelahiran dan kematian secara kebetulan, meskipun ada upaya untuk membuat kehidupan ataupun kematian, tidak ada sakit dan kesembuhan secara kebetulan walaupun ada upaya manusia tanpa ijin dari Allah.

Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Al-An’aam: 59).

Setiap manusia harus memahami kenyataan bahwa setiap detik waktu mereka telah ditakdirkan oleh Allah. Hal ini karena takdir bagi segala sesuatu di alam semesta telah diketahui oleh Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.

Karena itu setiap hal kecil telah direncanakan oleh Allah dengan sempurna dan memiliki tujuan-tujuan tertentu.

Pemahaman tersebut akan mendorong seseorang mengetahui bahwa ada keburukan dalam peristiwa yang tampaknya baik dan ada kebaikan dalam peristiwa yang tampaknya buruk.

Allah berfirman:

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (Al-Baqarah: 126).

Oleh karena itu, apapun yang kita alami dalam kehidupan ini, apakah itu terlihat baik ataupun buruk, semuanya adalah baik karena hal itu merupakan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kita.

Keimanan dalam memahami setiap peristiwa

Lebih jauh Harun Yahya, melihat bahwa seseorang yang mengahadapi kesulitan akan berimplikasi pada perasaan frustasi, stres atau terbawa pada kondisi yang emosional. Sikap menghadapi tekanan kehidupan tergantung pada faktor keyakinan seseorang, apakah akan gelisah berkepanjangan, tegang, marah atau tawaduk dengan penuh kesabaran sambil menunggu keberkahan dari Allah SWT. Keimanan dan pemahaman terhadap esensi takdir sangat menentukan tanggapan yang muncul ketika menerima situasi yang menekan tersebut.

Sikap tanggap tersebut, diantaranya karena stimulus yang muncul ketika seseorang tersebut sudah masuk pada pemahaman bahwa:

  1. Allah menguji manusia dengan hilangnya harta benda;
  2. Terjebak pada mencintai sesuatu walaupun itu buruk baginya;
  3. Kebijakan Allah dibalik penyakit;
  4. Penyakit mengingatkan manusia bahwa ia lemah dan membutuhkan Allah;
  5. Penyakit menjadikan seseorang lebih memahami bahwa kesehatan adalah berkah dan kemurahan dari Allah;
  6. Penyakit menjadikan seseorang benar-benar menyadari kesementaraan dunia, kematian dan akhirat;
  7. Penyakit diberikan untuk do’a seseorang dan menariknya untuk dekat kepada Allah;
  8. Sebagai balasan atas kesabaran yang ditunjukkan di kala sakit, Allah membalasnya dengan kehidupan abadi di dalam surga;
  9. Kesalahan orang-orang beriman juga menjadi kebaikan bagi mereka;
  10. Setiap diri akan merasakan mati;
  11. Kematian adalah awal, bukan akhir;

Hijab melihat kebaikan

Seseorang yang berpikir bahwa kehidupan adalah kebetulan semata, adalah tidak masuk akal. Demikian pula pandangan yang merujuk bahwa apa yang direncanakan dengan masak-masak pasti berakhir dengan perolehan seperti yang diinginkan.

Tujuan hidup utama yang semata-mata menetapkan rencana dan aspirasi sebagai jaminan, kadang dapat menyesatkan dan berpikir bahwa kegagalan adalah semata-mata kekurang cermatan rencana, mengacuhkan kekuatan takdir yang senantiasa melingkupi kehidupan manusia dan lupa bahwa hidupnya adalah cobaan.

Kendala umum yang dihadapi seseorang menjadi terhalang melihat kebaikan dalam segala hal adalah:

  1. Tidak memahami bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melebihi kemampuannya;
  2. Tidak menyadari bahwa setiap kemalangan yang menimpa manusia berasal dari dirinya sendiri;
  3. Salah memahami esensi takdir;
  4. Upaya setan menghalangi manusia menyadari adanya kebaikan dalam segala hal.

Ibrah nabi dalam melihat kebaikan

Nabi sebagai manusia pilihan dalam meneruskan risalah Allah, tidak terlepas dari kesulitan-kesulitan yang dihadapi, namun dengan keyakinan penuh bahwa Allah akan menolong mereka dalam melewati masa sulit tersebut; mereka merasakan kedamaian dan kenyamanan melihat kebaikan dalam segala hal.

Beberapa kesulitan yang dihadapi para nabi, diantaranya adalah:

  1. Keimanan nabi Muhammad SAW dalam menghadapi berbagai kesukaran sepanjang hidupnya;
  2. Akhlaq mulia nabi Musa a.s , selama perjuangnanya yang sulit yang terus menerus mengingat pertolongan Allah, melihat kebaikan dalam segala hal;
  3. Kepatuhan nabi Yusuf a.s., menghormati orang tua dan saudaranya dalam situasi tertekan atas permusuhan dari saudara-saudaranya.

Janji Allah dan pertolongan-Nya

Allah dalam firmanNya: ” … kebanyakan manusia tidak beriman (kepadaNya)” (Ar-Ra’d:1); adalah suatu peringatan dari Allah bahwa orang kafir selalu banyak jumlahnya daripada orang mukmin. Bagi orang mukmin peringatan tersebut senantiasa dihadapi dengan tegar, karena ada janji Allah yaitu: ”…. Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (An-Nisaa’:141).

Bantuan  dan pertolongan Allah kepada orang-orang beriman terus ada sepanjang hidup mereka. Sepanjang sejarah dan dalam berbagai cara, Allah telah memberikan pertolonganNya kepada orang-ornag beriman.

Bagi orang beriman tidak perlu ragu bahwa Allah akan meninggalkan, dan Allah senantiasa akan melindunginya dari semua makar yang direncanakan terhadap kaum muslimin, sesuai dengan firmanNya: ”…Allah melemahkan tipu daya orang-orang kafir.” (Al-Anfaal:18).

”…Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakan sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu”. (Al-Fathir:43).

Penilaian dan kritik tulisan

Harun Yahya sangat piawai dalam menjelaskan isu yang berkaitan dengan topik tulisan dengan merelasikan ke ayat-ayat Al-Qur’an.

Semua ayat-ayat Allah dijelaskan dengan deskripsi dan contoh-contoh yang sedemikian rupa sehingga membawa pembaca dengan mudah mencerna apa yang dimaksudkan.

Kerangka penulisan juga dirancang sistematis dengan umpan-umpan pertanyaan yang menggiring pembaca memulai dari pertanyaan yang sederhana, sampai pada tujuannya dalam menjelaskan hakekat yang akan diungkapkan; dicontohkan dalam tulisan ini dimulai dengan pokok bahasan: ”melihat kebaikan dalam segala peristiwa”, setelah pembaca memahaminya, kemudian diangkat pertanyaan:

–                     Bagaimana orang melihat sebuah peristiwa

–                     Bagaimana melihat kebaikan dalam segala hal yang terjadi

Kemudian dijelaskan lebih panjang dalam pokok bahasan: ”Bagi orang beriman, ada kebaikan dalam segala hal” serta ditutup dengan identifikasi alasan-alasan yang menjadi hijab seseorang melihat kebaikan.

Pembaca juga diingatkan atas stimulus yang berupa ibrah dari perjuangan beberapa nabi ketika mensikapi kesulitan yang dihadapi, serta diingatkan akan janji-janji perlindungan Allah dengan merujuk pada nukilan ayat-ayat Allah.

Tulisan ditutup dengan sisipan artikel tentang kesalahan konsep teori evolusi, yang memang tidak terkait langsung dengan pokok bahasan, namun sebagai pelepas kejenuhan pembaca setelah berkutat dengan pemahaman takdir dan kebaikan.

Pemaparan kesalahan teori evolusi, sepertinya untuk memperlihatkan sisi lain tentang bagaimana kegagalan teori evolusi yang mendasarkan konsep logika belaka dengan mengabaikan bahwa setiap detil di alam semesta ini ada pencipta Yang Maha Sempurna.

Harun Yahya ingin menunjukkan bahwa teori materialisme telah gugur dengan bukti-bukti yang terungkap oleh teori evolusi itu sendiri dan juga beberapa bukti pendukung berupa temuan fosil, statement pakar arkeologi, dan sebagainya.

Kelemahan dalam penulisan ini, Harun Yahya kurang menyederhanakan penjelasan tentang takdir dalam kaitannya keberuntungan, kesulitan yang dihadapi proses kehidupan sehari-hari.

Penjelasan tentang takdir dengan sedikit penjelasan disertai ayat-ayat Allah, memang akan mudah dicerna dan dipahami oleh orang-orang yang sudah dilandasi dasar keimanan meskipun baru meyakini keberadaan Allah Azza wa Jalla; tetapi agak kurang memprovokasi seseorang yang masih berorientasi pada kehidupan duniawi. Dengan pemikiran yang sederhana kebanyakan masih melihat bahwa kehidupan di dunia semata-mata sebab-akibat; sehingga memang diperlukan penjelasan-penjelasan yang sederhana apa itu takdir relasinya terhadap keberuntungan (berkah Allah) dan kesialan (dimotivasi menjadi ujian).

Atau memang buku ini ditujukan  kepada orang yang secara (dengan harapan) fitrah dalam hati kecilnya meyakini keberadaan Sang Pencipta. Buku ini diharapkan menjadi triger dan semakin memantapkan untuk meyakinkan keberadaan dirinya, lingkungan, alam semesta dalam proses dan perjalan waktu semuanya telah diatur oleh Dzat Yang Maha Kuasa.

(Teguh Semedi, Ketua Kafilah MAN-6 RDC)

Pos ini dipublikasikan di Forum Islam. Tandai permalink.

2 Balasan ke RESUME BUKU

  1. rizal550571 berkata:

    Alhamdulillah, tulisan ini memberikan perspektif yang luas akan ketajaman mata, hati dan fikiran , semoga kita selalu menjadi orang yang alert terhadap SISI BAIK DARI SUATU PERISTIWA YANG TERJADI !. . . Amin , Lanjut …Maaang…!
    wass. RZL

  2. M Sofjan berkata:

    Mas Medi,
    Resensinya luar biasa ,,,berkelas ,, dan sangat indah ,,,kata demi kata ,,kalimat demi kalimat penuh perenungan ,, sekali lagi terimakasih ,, smoga kita dan alumni SKSD lainnya selalu diberi kemudahan dalam merasakan dan melihat kebaikan,,, aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s